20 Oktober 2008

Asia Future Shock-Krisis, Gejolak, Peluang


Judul buku: Asia Future Shock-Krisis, Gejolak, Peluang, Kegoncangan, Ancaman Masa Depan Asia

Penulis: Michael Backman

Penerjemah: Meda Satrio

Penerbit: Ufuk Press, Jakarta , 2008

Tebal buku: x + 292 halaman


Ramalan Krisis Global Asia


Krisis global atau krisis keuangan global yang sedang mendera Amerika Serikat. Inilah buah ketergantuan para investor bermodal besar pada spekulasi-spekulasi yang dominan dalam bisnis bursa efek. Sektor riil tidak banyak berjalan, tidak seperti yang selama 30 tahun belakangan ini menopang Asia .

Justru merosotnya mata uang global itu akibat bisnis riil tidak diperhatikan di sana . Alhasil, krisis pun dengan mudah mendera pada surat-surat bisnis bernilai milyaran dolar. Apakah kasus yang bikin panik Amerika dan Eropa itu akan merembet ke kawasan Asia ?

Tidak mudah memprediksi pola krisis keuangan global akan mendera Asia atau tidak, dalam kurun 3-6 bulan ke depan. Namun bila ditilik dari pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang lebih banyak ditopang kemandirian bisnis sektor riil, sebagaimana ditunjukkan buku karangan Michael Backman ini, juga pertumbuhan penduduk dan perimbangan kawasan-kawasan ekonomi penyangga, kekuatan ekonomi Asia cukup kuat melewati krisis jauh melebihi Negara Adidaya. Bila buku ini dibaca lebih mendalam, tampaknya, krisis keuangan global diprediksi tidak akan berpengaruh besar terhadap sistem ekonomi di Asia.

Gambaran yang disajikan Michael Backman begini: dengan penduduk dinamis di Jepang, India, dan Cina yang mencapai lebih 1 milyar manusia, 30 tahun mendatang penduduk Asia akan 400 juta orang lebih banyak daripada sekarang. India akan nyaris menjadi negara terpadat di dunia dan Mumbai akan menjadi kota terpadat di dunia.

Perekonomian Vietnam akan seperti perekonomia Guangdong . Korea Utara dan Selatan mungkin akan bersatu kembali. Asia akan menjadi rumah bagi separuh reaktor nuklir dunia. Cina akan menjadi negara dengan penutur bahasa Inggris terbanyak di dunia (hlm. 23).

Di Cina, penggunaan bahasa Mandarin akan membengkak setidaknya 50%. Cina akan memiliki angkatan laut kuat serta menjadi pengekspor utama persenjataan canggih. Seratus juta wisatawan Cina akan mengalir keluar dari Cina setiap tahun. Perusahaan-perusahaan multinasional India berskala besar akan merambah perekonomian dunia lebih dari yang sekarang mereka lakukan.

Perusahaan-perusahaan penting Asia akan dikendalikan oleh perwalian-perwalian amal. Afrika akan porak poranda oleh ketegangan etnis tetapi kali ini antara rakyat Afrika dan para imigran Cina, bukan India . Warga Jepang akan berkurang 20 juta dibandingkan sekarang.

Jumlah pria India dan Cina akan 250 juta lebih banyak daripada wanitanya, yang berkemungkinan menyebabkan kedua Negara itu memperbesar angkatan persenjataan mereka setelah bertahun-tahun ini melakukan perampingan. Dan Indonesia dan Malaysia akan kehabisan minyak; keduanya akan menyesali banyak peluang yang tersia-sia dalam sekian dasawarsa sebelumnya (hlm. 113).


Bukan Kebebasan Politik

Pemerintah-pemerintah Asia akan terus memberi warga mereka lebih banyak kebebasan, tetapi bukan kebebasan politik. Negara-negara yang sekarang tidak demokratis tidak akan semakin mendekati demokasi. Dan sekarang demokratis akan meninggalkan faham itu dan menjadi lebih otoriter. Model kebebasan ekonomi dan sosial tetapi tanpa kebebasan pelitik yang sebanding akan menjadi model pilihan ketika alternative-alternatif lain sudah dicoba dan dirasa kurang.

Partai-partai berkuasa di Cina , Vietnam , Malaysia , dan Singapura semakin tidak terlalu memedulikan apa yang dilakukan warga mereka asalkan tidak mengancam kekuasaan mereka. Perjanjian muncul antara pemerintah-pemerintah Asia dan warga mereka adalah “biarkan kami tetap memegang kekuasaan dan sebagai imbalannya kami tidak akan mengganggu kalian dan kami akan menyuguhkan pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan”. Akan tetapi kebebasan media dibatasi dan, ironisnya, internet dibujuk melayani autokrat-autokrat Asia , bukan menggoyahkan mereka (hlm. 78).

Bagaimanapun juga, demokrasi adalah hadiah karena sudah membangun perekonomian yang baik. Tidak ada perekonomian Barat yang benar-benar demokrats sebelum menjadi sangat kaya. Asia kelak akan mengetahui hal ini juga.

Walaupun populasi Asia secara keseluruhan meningkat, peningkatan ini lebih lambat daripada sebelumnya. Pertumbuhan populasi melambat akibat gabungan beberapa faktor, yang paling mendasar adalah kekayaan. Dalam bahasa ilmu ekonomi, anak merupakan “barang investor’: bila penghasilan meningkat, permintaan akan anak juga meningkat tetapi proporsinya mengecil.

Penghasilan yang lebih besar memungkinkan orang mengakses kesempatan-kesempatan baru. Akibatnya, membesarkan anak dirasa lebih sulit. Mereka lebih sering makan di luar, bepergian, mengejar hobi. Selain itu, ketika negara semakin kaya, keikutsertaan perempuan dalam angkatan kerja meningkat. Wanita menunda memiliki anak atau jumlah anak lebih sedikit karena memilih meniti karir.

Banyak wanita memutuskan tidak memerlukan seorang suami sebagai penjamin penghasilan sebab bisa mereka lakukan sendiri. Satu faktor final mengapa orang punya lebih sedikit anak bila perekonomian matang terkait dengan bantuan dalam rumah tangga: pembantu dan pengasuh anak semakin sulit didapat dan mahal, dan keluarga besar menjadi lebih kecil sehingga lebih sedikit kerabat yang bisa membantu mangasuh anak.


Bagaimana Indonesia ?

Apa tantangan perekonomian Indonesia dalam dasawarsa-dasawarsa mendatang? Tantangan terbesar adalah menarik kembali para investor asing. Mengurangi korupsi dan meningkatkan transparasi adalah kuncinya. Siapkah Indonesia menerima tantangan ini? Menurut buku ini, membaca indikasi-indikasinya menunjukkan sejauh ini tidak ada kesiapan. Penyebabnya, antara lain, pungutan dan pembayaran tidak resmi di setiap sendi perekonomian Indonesia semakin sangat mahal.

Rakyat Indonesia bersikap fleksibel terhadap korupsi. Survei-survei memperlihatkan rakyat Indonesia cenderung mendefinisikan korupsi dari segi kuantitas. Korupsi adalah jika mengambil uang secara tidak semestinya yang berjumlah besar. Bahwa sah atau wajar saja jika orang-orang yang berkuasa memanfaatkan kedudukan untuk memperkaya diri. Hanya saja masyarakat jijik jika orang-orang itu terlalu serakah (hlm. 209).

Buku ini menyajikan 25 telaah penting mengenai masa depan Asia . Sebagian besar memperkenalkan sejumlah risiko dan peluang dalam beberapa dasawarsa mendatang, sebagai alat bagi para penyusun strategi dan rencana bisnis. Mungkin juga sesuai bagi anak-anak kecil, atau paling tidak orang tua mereka, sewaktu memimpikan karier masa depan. Buku ini cocok dibaca para perancang Indonesia.


Kholilul Rohman Ahmad, Pustakawan peminat masalah sosial kebudayaan tinggal di Magelang

31 Juli 2008

Ironi Negeri Beras


Khudori, Ironi Negeri Beras, Yogyakarta: Insist Press, Juni 2008, x+366 halaman termasuk indeks


Beras dalam Pergulatan Politik


Beras dan politik seperti tidak ada sangkut pautnya. Beras adalah bahan pangan kita, sementara politik adalah alat perjuangan untuk mendesakkan kepentingan tertentu. Beras sangat konkrit, sedangkan politik sangat absurd. Akan tetapi dalam jalinan pergulatan kebudayaan rakyat kontemporer, dua kata itu menjadi mesra seperti pasangan suami istri.

Dalam sejarah negara Indonesia , beras dan politik selalu mengemuka. Di masa Orde Baru politik beras yang bergulir adalah swasembada beras –saking berlimpah sempat diekspor--, beras murah, dan petani tetap makmur. Sementara pasca reformasi politik beras yang bergulir beras langka, beras mahal, tetapi petani tidak makmur. Bahkan jutaan produsen beras (petani) terlilit dalam kemiskinan. Aneh. Tetapi kenyataan perberasan kita dewasa ini demikian adanya. Adakah yang salah dengan perberasan kita? Buku Ironi Negeri Beras ini mencoba mengulitinya.

Beras menjadi pangan penting tak lain karena bertalian dengan karakterisktik uniknya. Seluruh bagian beras bisa dimakan. Selain mengandung karbohidrat yang mudah dicerna, beras juga mengandung vitamin dan mineral penting. Teknologi pemrosesan, pengolahan, dan penyimpanannya mudah. Beras/padi bisa tumbuh mulai di daerah tropis sampai subtropis. Di dataran rendah hingga dataran tinggi. Beras bisa pula dibudidayakan baik secara tradisional maupun dengan teknologi mekanis. Selain itu varietasnya pun beraneka ragam, terdapat 90.000 varietas yang dikenal.

Bagi negara-negara kawasan Asia , beras merupakan komoditas yang penting dan strategis. Letak penting dan strategis beras bukan saja karena sebagian beras komoditas pangan ini diproduksi dan dikonsumsi di Asia , tetapi karena beras juga menjadi sumber devisa dan gantungan hidup jutaan rumah tangga petani. Dibandingkan dengan jenis serelia lainnya, seperti kentang dan jagung, beras merupakan tanaman pangan yang sangat penting di dunia. Tidak banyak komoditas serelia lain yang memiliki posisi maha penting seperti beras (hlm. 19).

Beras dan Politik

Lalu bagaimana masalah beras dengan politik? Menurut Khudori, karena masalah pangan (baca: beras) berkait dengan keamanan rakyat. Sayangnya tidak ada catatan klasik di negeri ini yang menyebut pangan sebagai hal strategis sejak dari Kitab Pararaton, Negara Kertagama, Nitiprojo, Sutasoma, dan sebagainya yang berisi persoalan beras. Yang mempersoalkan pangan biasanya elite yang menempatkan pangan sebagai bagian penting dari instrumen politik yang dikaitkan dengan kekuasaan semata-mata. Karena pangan merupakan instrumen yang dipakai oleh rakyat.

Beras atau jagung atau lainnya jarang dianggap sebagai instrumen paling legitimatif untuk memperoleh loyalitas rakyat. Padahal untuk menjadi penguasa sebenarnya tidak perlu keris atau pedang atau bedil. Cukup dengan pangan, yang bisa membuat rakyat kenyang dan tentram. Itulah yang menjadi landasan pemikiran bahwa ketahanan pangan adalah hal penting. Ia tak kalah penting dibandingkan bahaya teroris, yang dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan, yang kini jadi wacana nasional dan global. Kalau kita mempergunakan isu pangan di Indonesia , misalnya roti atau mi instant yang kita makan sehari-hari sudah dicampuri bahan tertentu yang tidak halal, pasti runyam (hlm. 206).

Pangan secara harfiah memang bukan politik. Dalam kehidupan sehari-hari, pangan umumnya diperlakukan sebagai bahan-bahan yang diperlukan jasmani agar badan manusia bisa meneruskan keberlangsungan hidup. Tapi di sinilah pangkal persoalannya. Karena merupakan kebutuhan jasmani yang tak terelakkan, maka pangan menjadi barang langka ketika dihadapkan dengan sistem-sistem ekonomi dan politik yang luas. Maka dalam konteks pemaknaan ekonomis, pangan tidak lagi berhenti sebagai materi saja. Melainkan sesuatu yang bersifat menguntungkan, yang memberi keuntungan kepada siapa saja yang menguasainya (hlm. 207).

Namun harap hati-hati. Penguasaan pangan bila tanpa perhitungan bisa menggoncang politik. Maka kekuasaan penting untuk stabilitas pangan. Stabilitas pangan goncang, kekuasaan akan goyang. Ini lebih nyata lagi bagi banyak negara-negara berkembang dan miskin, seperti kondisi Indonesia mutakhir, karena sebagian besar pendapatan masyarakat terserap untuk pembelian pangan. Dalam masyarakat politik seperti itu persoalan pangan bisa menjadi ancaman stabilitas politik yang laten dan sewaktu-waktu bisa meledak.

Pertaruhan negara

Maka bagi Indonesia untuk mencapai ketahanan pangan, apapun dipertaruhkan oleh negara. Pembangunan infrastruktur diprioritaskan untuk pangan. Irigasi, bendungan, jalan, listrik, jembatan, dan lain-lain. Rakyat digerakkan untuk pangan. Dari sisi produsen usaha tani padi Indonesia melibatkan sekitar 25,4 juta rumah tangga petani atau lebih dari separo jumlah penduduk.

Tidak jauh beda dengan negara-negara Asia lain. Di Thailand, lebih dari 50% tenaga kerja bekerja di sektor pertanian. Dan dari jumlah itu 3,7 juta keluarga atau sekitar 66% merupakan petani padi. Pemerintah di negara-negara di kawasan Asia, seperti Vietnam, Filipina, Cina, India, dan Thailand juga telah mengeluarkan dana jutaan dilar AS untuk membangun sarana dan prasarana.

Buku ini berisi 6 bab utama. Bab 1 sejarah beras. Bab 2 ekonomi beras: dinamika perberasan di Indonesia , kelaparan di tengah kelimpahan beras. Bab 3 beras dan kebudayaan: kebudayaan beras di Indonesia : tidak sekedar ritual dan mitos, kebudayaan sawah. Bab 4 politik beras: peran strategis beras, politik beras di berbagai negara. Bab 5 beras dan perdagangan internasional: Indonesia dalam perdagangan beras internasional, karakterisktik pasar beras dunia. Bab 6 anatomi petani padi: untung besar tapi miskin, wajah petani Indonesia , meningkat dejarat ketimpangan.

Buku penting dibaca bagi pemangku kebijakan pangan nasional. Analisis dan data-datanya cukup mumpuni sebagai pijakan pergerakan memakmurkan rakyat melalui kebijakan pertanian dan pangan. Selain itu, buku ini cocok sebagai buku acuan utama mahasiswa fakultas pertanian.*

Kholilul Rohman Ahmad, Pustakawan Peminat Kebudayaan Tinggal di Magelang, Jawa Tengah

07 Juli 2008

Geneologi Islam Radikal di Indonesia: Gerakan, Pemikiran, dan Prospek Demokrasi


Prospek Islam Radikal untuk Demokrasi


Judul: Geneologi Islam Radikal di Indonesia: Gerakan, Pemikiran, dan Prospek Demokrasi

Penulis: M Zaki Mubarak

Pengantar: M Syafii Anwar
Penerbit: LP3ES, Jakarta, April 2008

Tebal: xxxvii + 384 halaman

Peresensi: Kholilul Rohman Ahmad

Publikasi: SUARA MERDEKA (Semarang) edisi Minggu 07 Juli 2008


Kekerasan mewarnai peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 2008. Publik dikejutkan kehadiran tokoh kontroversial. Munarman namanya. Laki-laki asal Sumatera ini menjadi perhatian publik dalam waktu relatif singkat. Tiba-tiba seluruh media cetak-elektronik nasional dan lokal membahasnya. Pemberitaan terhadapnya seolah-olah di-setting untuk menegaskan agenda tertenhtu. Meskipun hal ini dibantah oleh pelaku media sendiri.

Namun anehnya, dalam kasus peringatan lahir Pancasila di Mona itu, AKBB (aliansi Kebebasan Berkeyakinan dan Beragama) yang menjadi korban kekerasan malah tidak terkenal. Justru yang terkenal adalah pelaku kekerasan, yakni Munarwan yang mengklaim bertanggungjawab atas penyerangan ratusan anggota AKBB dengan bendera Laskar Pembela Islam (LPI).

Lalu pertanyaan publik muncul menyelidik: Ada apa dengan Munarman? Apa ini ada kaitan dengan upaya pengerasan dan penegasan fundamentalisme keagamaan (Islam) di Indonesia menjelang pemilu Pilpres 2009? Ikuti dan simak buku ini yang di dalamnya tidak secara langsung membahas Munarman. Lewat buku ini pembaca dapat menyelidiki latar belakang yang dilakukan Munarman. Buku ini juga menganalisis celah-celah fundamentalisme keagamaan (Islam radikal) yang bisa didapuk sebagai pendorong gerakan demokratisasi.

Fundamentalisme dalam Islam radikal yang coba digulirkan penulis bukan sekedar hendak menegaskan eksistensinya. Namun lebih dari itu bahwa substansinya adalah demi penegakan peradaban yang lebih baik dengan Syariat Islam. Dalam konteks demokratisasi tentu berpendapat secara teologis merupakan hak setiap warga negara dan memang dijamin undang-undang. Akan tetapi, mengapa selama ini perilaku dan langkah-langkah untuk mengangkatnya justru tidak mencerminkan asas demokratisasi itu sendiri?

Akar Fundamentalisme

Buku ini menyatakan, akar fundamentalisme Islam di Indonesia sebetulnya mempunyai tujuan mulia, yakni membangun bangsa dan Negara yang dengan itu bisa menyejahterakan rakyatnya. Dengan dasar-dasar Al-Quran para aktivis fundamentalisme, seperti Munarman, ingin agar Indonesia di mata dunia menjadi contoh penerapan syariat Islam. Akan tetapi, kekuatan yang dimilikinya belum seberapa kuat untuk mewujudkannya sehingga arah demokratisasi yang diharapkan adalah agar setidaknya menjadi lilin-lilin kecil di setiap sudut wilayah bangsa Indonesia.

Ada apa dengan fundamentalisme yang begitu militan gerak dan langkahnya? Buku ini menjelaskan, bahwa fundamentalisme yang berkembang dalam dasawarsa pertengahan hingga akhir abad ke-20 telah sangat lazim dihubungkan dengan fenomena yang berdimensi politik. Tidak sekedar sebagai ‘senjata’ untuk melawan kepungan modernitas, globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan sekuler yang semakin tidak terbendung, atau pun suatu kekolotan atas sistem nilai yang digmatis.

Fundamentalisme keagamaan juga memiliki keterkaitan dengan aspek-aspek lain yang multidimensi, yang meliputi segi-segi budaya, sosial, politik, ekonomi, dan keagaman itu sendiri. Istilah fundamentalisme yang hampir selalu diiringi dengan kosakata seperti radikalisme, ekstremisme, dan bahkan anarkisme, telah menjadi suatu kategori pengetahuan tertentu untuk membedakannya dengan arus-arus kebudayaan dan keagamaan lain yang ‘rasional’ dan moderat (hlm. 15).

Berbagai fenomena kekerasan dan teror yang berlangsung itu telah semakin menambah rumit persoalan yang muncul dari ekses-ekses transisi politik yang seringkali penuh ketidakpastian. Dampak dari krisis ekonomi yang hebat dan derajat konfliktual yang keras serta berlarut-larut para elite politik nasional, baik di era Habibie, Abdurrahman Wahid, dan kemudian Megawati bahkan Susilo Bambang Yudhoyono, telah mengakibatkan tidak cukupnya perhatian atas gejala-gejala radikalisasi yang makin subur di tubuh beberapa elemen Islam. Sebagai akibatnya banyak kebijakan pemerintah yang kemudian menjadi tidak efektif untuk membatasi ruang gerak elemen-elemen radikal tersebut.

Namun demikian, dalam konteks Indonesia banyak muncul penilaian bahwa intensitas konflik dan pertentangan telah melebihi ambang batas kenormalan atau di luar koridor kewajaran. Problematika transisi ini apabila tidak berhasil dikelola dan dikendalikan dengan baik, bukan mustahil akan menjadi malapetaka serius untuk keselamatan proses demokratisasi itu sendiri.

Wajah Baru Radikalisme

Benturan berbagai ide yang melibatkan elemen-elemen Islam sepanjang 1998-2005 muncul dalam berbagai aspek sosial, keagamaan, dan politik. Dalam hal ini yang mengemuka antara lain menanggapi soal presiden perempuan, pemberlakuan syariat Islam, keabsahan demokrasi, pluralisme beragama, makna jihad, hingga persoalan-persoalan politik dan teologi yang lain. Proses dinamis dalam perkembangan pemikiran kontemporer Islam di Indonesia dan perwajahan baru radikalisme dalam gerakan Islam yang semakin meningkat, tentu saja menarik untuk dicermati dengan seksama (hlm. 114-115).

Buku ini memotret satu dinamika penting yang berlangsung di masa transisi demokrasi, yakni pertumbuhan dan perkembangan elemen-elemen Islam radikal di Indonesia. Dalam tahun-tahun awal reformasi, berbagai kelompok Islam radikal naik daun, seiring proses transisi demokrasi yang makin terseok-seok. Di tengah kondisi masyarakat yang tidak kondusif, serta pecahnya konflik keagamaan di beberapa daerah, telah memberikan peluang bagi kelompok-kelompok Islam berhaluan radikal memainkan peran dominan dalam isu-isu nasional. Di sinilah peluang demokratisasi bisa diperankan kelompok Islam radikal.

Meskipun secara langsung Islam radikal tidak terlihat kontribusi demokrasinya karena mainstream media terlanjur mencibir dan menempatkan kelompok ini sebagai anti-demokrasi. Ditambah pola gerakan dan pengelolaan konflik inter dan antar kelompok oleh kalangan Islam radikal sering menguatkan asumsi itu. Tetapi Islam radikal punya celah kuat untuk demokratisasi.

Melalui buku ini kita akan diajak berkelana dengan sejuta gagasan tentang pentingnya menghangatkan fundamentalisme dalam komunitas kenegaraan tertentu karena dengan cara itu secara makro perlahan-lahan demokrasi akan mengalami peningkatan dan ending-nya berguna bagi sistem kenegaraan itu sendiri. Bila tidak begitu, setidaknya, kontribusi fundamentalisme Islam radikal berguna bagi penegasan pentingnya terus berjuang menegakkan demokrasi.

Kholilul Rohman Ahmad, Sarjana Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta


29 Juni 2008

Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik, Zaman Kuno hingga Sekarang


Seputar Pertanyaan Filosofis dalam Filsafat Barat

Judul buku: Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik, Zaman Kuno hingga Sekarang
Penulis: Bertrand Russell
Penerjemah: Sigit Jatmiko, Agung Prihantoro, Imam Muttaqien, Imam Baihaqi, Muhammad Shodiq
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet, November 2002
Tebal: xxvi+1110 halaman

Konsepsi-konsepsi tentang kehidupan dunia yang kita sebut 'filosofis' dihasilkan oleh dua faktor: pertama, konsep-konsep religius dan etis warisan; kedua, semacam penelitian yang bisa disebut 'ilmiah' dalam pengertian luas. Kedua faktor ini mempengaruhi sistem yang dibuat oleh para filsuf secara perseorangan dalam proporsi yang berbeda-beda, tapi kedua faktor inilah yang, sampai batas-batas tertentu, memunculkan filsafat.

Menurut Bertrand Russell, filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi, filsafat berisikan pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya tidak bisa dipastikan. Namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu. Semua pengetahuan definitif termasuk ke dalam sains. Semua dogma yang melampaui pengetahuan definitif termasuk ke dalam teologi.

Di antara teologi dan sains itulah terdapat wilayah yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun, yang tidak terlindung dari serangan di kedua sisinya. Wilayah tak bertuan ini adalah filsafat.

Filsafat, yang berbeda dari teologi, mulai berkembang di Yunani pada abad ke-6 SM. Setelah memasuki zaman kuno, filsafat kembali ditenggelamkan oleh teologi ketika agama Kristen bangkit dan Roma Jatuh. Periode kejayaan filsafat yang kedua, abad ke-11 hingga ke-14, didominasi oleh gereja Katholik, kecuali selama masa kekuasaan beberapa pemberontak besar, seperti Kaisar Frederick II (1195-1250).

Periode ini diakhiri dengan kebingungan-kebingungan yang berpuncak pada Reformasi. Beberapa filosof pada periode ini bercirikan ortodoks dari sudut pandang Katholik. Dalam pemikiran mereka, negara sekuler lebih penting daripada gereja (hlm. xvi). Ini merupakan penyakit jiwa, dan, dari titik ekstrem ini filsafat berupaya masuk ke dalam dunia akal sehat sehari-hari.

Dalam pada itu, hampir semua persoalan yang sangat menarik bagi pikiran-pikiran spekulatif tidak bisa dijawab sains. Demikian pula, jawaban-jawaban yang meyakinkan dari para teolog tidak lagi terlihat begitu meyakinkan sebagaimana pada abad-abad sebelumnya. Apakah dunia ini terbagi menjadi dua: jiwa dan materi? Jika ya, apakah jiwa dan materi itu? Apakah jiwa tunduk pada materi, atau apakah jiwa dikuasai oleh kekuatan-kekuatan independen?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa ditemukan di laboratorium. Teologi-teologi telah berusaha menyodorkan jawaban-jawaban yang semuanya sangat definitif, tapi jawaban-jawaban itu mengundang kecurigaan pikiran-pikiran modern. Sebab, mempelajari pertanyaan-pertanyaan itu, jika bukan menjawabnya, adalah urusan filsafat.

Buku sangat tebal (xxvi+1.110 halaman) ini bukan hanya menguraikan pertanyaan filosofis di dunia filsafat, namun juga menguraikan akar sejarah yang mempengaruhi setiap pemikiran filsafat sepanjang zaman dan mengupas persoalan berdasarkan kondisi sosial politik yang mempengaruhinya. Sebab, menurut Russell, sejak manusia dapat berpikir bebas, tindakan-tindakannya--dalam berbagai hal penting yang tidak terbatas jumlahnya--bergantung pada teori-teori yang mereka hasilkan tentang dunia dan kehidupan manusia, tentang apa yang baik dan apa yang buruk.

Untuk memahami sebuah zaman atau bangsa, kata Russell, kita harus memahami filsafatnya. Untuk memahami filsafatnya, kita harus--sampai batas-batas tertentu--menjadi filosof. Di sini ada hubungan klausul timbal balik: lingkungan kehidupan manusia banyak menentukan filsafatnya, dan sebaliknya, filsafat juga banyak menentukan lingkungan kehidupannya. Deskripsi antara filsafat dan lingkungan kehidupan manusia selama berabad-abad merupakan topik utama buku yang ketebalannya cukup langka di Indonesia ini.

Karya ini, judul aslinya History of Western Philosophy and its Connection with Politicak and Social Circumstances from the Earliest Time to the Present Day, merupakan buku Russel yang paling sukses dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Dalam buku ini Russell berusaha mengaitkan sejarah filsafat (dunia pemikiran) dengan sejarah sosial, politik, dan kemasyarakatan (dunia kenyataan).

Dengan data yang absah dan lengkap, Russell membahas sosok para filsuf yang mempunyai kontribusi besar dalam peradaban manusia dan merinci ide-ide dasar, pemikiran-pemikiran, pengaruhnya terhadap masyarakat dan para filsuf berikutnya. Juga dimasukkan bab-bab khusus mengenai sejarah sosial murni, yang dimaksudkan untuk melihat kaitan antara seorang filsuf, pemikiran dan kondisi sosial-politiknya.

Buku ini terdiri dari tiga bagian besar. Bagian I membahas filsafat kuno yang meliputi filsafat pra-Sokratik, Sokrates-Plato-Aristoteles, dan filsafat kuno setelah Aristoteles (terdiri 3 bagian dan 30 bab). Bagian II membahas filsafat Katholik, meliputi filsafat Para Bapa dan para filsuf Abad Pertengahan (terdiri 2 bagian dan 15 bab). Sedangkan bagian III membahas filsafat Modern, mencakup pembahasan filsafat dari Renaissans hingga Hume, dan dari Rousseau hingga para filsuf kontemporer abad ini (terdiri 2 bagian dan 31 bab).

Buku ini merupakan buku pertama berbahasa Indonesia terlengkap yang membahas tokoh dan pemikiran filsafat terdiri 76 bab. Literatur filsafat berbahasa Indonesia yang selama ini diyakini cukup lengkap adalah Kamus Filsafat karya Lorens Bagus. Namun karya Bagus tidak bisa disandingkan dengan buku ini karena bukan buku, melainkan kamus.

Jika Anda mempercayai opini tertentu tentang mutu buku yang diterjemahkan oleh penerjemah non-otoritatif di bidangnya, maka membaca buku ini opini itu akan sirna. Di samping buku ini diterjemahkan oleh tim yang menguasai bidangnya, hasilnya juga sangat memuaskan (bahasanya elegan, tampaknya melalui proses editing yang ketat) dibanding terjemahan-terjemahan sebelumnya yang diterbitkan Pustaka Pelajar.

Kholilul Rohman Ahmad, pustakawan, kandidat Sarjana Filsafat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini pernah dimuat di KORAN TEMPO 26 January 2003