29 Juni 2008

Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik, Zaman Kuno hingga Sekarang


Seputar Pertanyaan Filosofis dalam Filsafat Barat

Judul buku: Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik, Zaman Kuno hingga Sekarang
Penulis: Bertrand Russell
Penerjemah: Sigit Jatmiko, Agung Prihantoro, Imam Muttaqien, Imam Baihaqi, Muhammad Shodiq
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet, November 2002
Tebal: xxvi+1110 halaman

Konsepsi-konsepsi tentang kehidupan dunia yang kita sebut 'filosofis' dihasilkan oleh dua faktor: pertama, konsep-konsep religius dan etis warisan; kedua, semacam penelitian yang bisa disebut 'ilmiah' dalam pengertian luas. Kedua faktor ini mempengaruhi sistem yang dibuat oleh para filsuf secara perseorangan dalam proporsi yang berbeda-beda, tapi kedua faktor inilah yang, sampai batas-batas tertentu, memunculkan filsafat.

Menurut Bertrand Russell, filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi, filsafat berisikan pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya tidak bisa dipastikan. Namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu. Semua pengetahuan definitif termasuk ke dalam sains. Semua dogma yang melampaui pengetahuan definitif termasuk ke dalam teologi.

Di antara teologi dan sains itulah terdapat wilayah yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun, yang tidak terlindung dari serangan di kedua sisinya. Wilayah tak bertuan ini adalah filsafat.

Filsafat, yang berbeda dari teologi, mulai berkembang di Yunani pada abad ke-6 SM. Setelah memasuki zaman kuno, filsafat kembali ditenggelamkan oleh teologi ketika agama Kristen bangkit dan Roma Jatuh. Periode kejayaan filsafat yang kedua, abad ke-11 hingga ke-14, didominasi oleh gereja Katholik, kecuali selama masa kekuasaan beberapa pemberontak besar, seperti Kaisar Frederick II (1195-1250).

Periode ini diakhiri dengan kebingungan-kebingungan yang berpuncak pada Reformasi. Beberapa filosof pada periode ini bercirikan ortodoks dari sudut pandang Katholik. Dalam pemikiran mereka, negara sekuler lebih penting daripada gereja (hlm. xvi). Ini merupakan penyakit jiwa, dan, dari titik ekstrem ini filsafat berupaya masuk ke dalam dunia akal sehat sehari-hari.

Dalam pada itu, hampir semua persoalan yang sangat menarik bagi pikiran-pikiran spekulatif tidak bisa dijawab sains. Demikian pula, jawaban-jawaban yang meyakinkan dari para teolog tidak lagi terlihat begitu meyakinkan sebagaimana pada abad-abad sebelumnya. Apakah dunia ini terbagi menjadi dua: jiwa dan materi? Jika ya, apakah jiwa dan materi itu? Apakah jiwa tunduk pada materi, atau apakah jiwa dikuasai oleh kekuatan-kekuatan independen?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa ditemukan di laboratorium. Teologi-teologi telah berusaha menyodorkan jawaban-jawaban yang semuanya sangat definitif, tapi jawaban-jawaban itu mengundang kecurigaan pikiran-pikiran modern. Sebab, mempelajari pertanyaan-pertanyaan itu, jika bukan menjawabnya, adalah urusan filsafat.

Buku sangat tebal (xxvi+1.110 halaman) ini bukan hanya menguraikan pertanyaan filosofis di dunia filsafat, namun juga menguraikan akar sejarah yang mempengaruhi setiap pemikiran filsafat sepanjang zaman dan mengupas persoalan berdasarkan kondisi sosial politik yang mempengaruhinya. Sebab, menurut Russell, sejak manusia dapat berpikir bebas, tindakan-tindakannya--dalam berbagai hal penting yang tidak terbatas jumlahnya--bergantung pada teori-teori yang mereka hasilkan tentang dunia dan kehidupan manusia, tentang apa yang baik dan apa yang buruk.

Untuk memahami sebuah zaman atau bangsa, kata Russell, kita harus memahami filsafatnya. Untuk memahami filsafatnya, kita harus--sampai batas-batas tertentu--menjadi filosof. Di sini ada hubungan klausul timbal balik: lingkungan kehidupan manusia banyak menentukan filsafatnya, dan sebaliknya, filsafat juga banyak menentukan lingkungan kehidupannya. Deskripsi antara filsafat dan lingkungan kehidupan manusia selama berabad-abad merupakan topik utama buku yang ketebalannya cukup langka di Indonesia ini.

Karya ini, judul aslinya History of Western Philosophy and its Connection with Politicak and Social Circumstances from the Earliest Time to the Present Day, merupakan buku Russel yang paling sukses dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Dalam buku ini Russell berusaha mengaitkan sejarah filsafat (dunia pemikiran) dengan sejarah sosial, politik, dan kemasyarakatan (dunia kenyataan).

Dengan data yang absah dan lengkap, Russell membahas sosok para filsuf yang mempunyai kontribusi besar dalam peradaban manusia dan merinci ide-ide dasar, pemikiran-pemikiran, pengaruhnya terhadap masyarakat dan para filsuf berikutnya. Juga dimasukkan bab-bab khusus mengenai sejarah sosial murni, yang dimaksudkan untuk melihat kaitan antara seorang filsuf, pemikiran dan kondisi sosial-politiknya.

Buku ini terdiri dari tiga bagian besar. Bagian I membahas filsafat kuno yang meliputi filsafat pra-Sokratik, Sokrates-Plato-Aristoteles, dan filsafat kuno setelah Aristoteles (terdiri 3 bagian dan 30 bab). Bagian II membahas filsafat Katholik, meliputi filsafat Para Bapa dan para filsuf Abad Pertengahan (terdiri 2 bagian dan 15 bab). Sedangkan bagian III membahas filsafat Modern, mencakup pembahasan filsafat dari Renaissans hingga Hume, dan dari Rousseau hingga para filsuf kontemporer abad ini (terdiri 2 bagian dan 31 bab).

Buku ini merupakan buku pertama berbahasa Indonesia terlengkap yang membahas tokoh dan pemikiran filsafat terdiri 76 bab. Literatur filsafat berbahasa Indonesia yang selama ini diyakini cukup lengkap adalah Kamus Filsafat karya Lorens Bagus. Namun karya Bagus tidak bisa disandingkan dengan buku ini karena bukan buku, melainkan kamus.

Jika Anda mempercayai opini tertentu tentang mutu buku yang diterjemahkan oleh penerjemah non-otoritatif di bidangnya, maka membaca buku ini opini itu akan sirna. Di samping buku ini diterjemahkan oleh tim yang menguasai bidangnya, hasilnya juga sangat memuaskan (bahasanya elegan, tampaknya melalui proses editing yang ketat) dibanding terjemahan-terjemahan sebelumnya yang diterbitkan Pustaka Pelajar.

Kholilul Rohman Ahmad, pustakawan, kandidat Sarjana Filsafat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini pernah dimuat di KORAN TEMPO 26 January 2003