Judul Buku: Bisakah Orang Asia Berpikir?
Penulis: Kishore Mahbubani
Penerjemah: Salahuddien GZ
Pengantar: M Dawam Rahadjo
Penerbit: Teraju, Jakarta, 2005
Tebal: xliv + 317 halaman
Membangunkan (Akal) Orang Asia
Oleh: Kholilul Rohman Ahmad
GLOBALISASI bukan masalah remeh. Sebab, kenyataan sistem dunia itu menjadi problem mendasar. Globalisasi akan sangat menentukan manusia dan kualitas kemanusiaan di masa depan. Oleh karena itu, memperbincangkan bagaimana menyikapi globalisasi mutlak diperlukan agar keberadaan kita selalu diakui oleh orang (bangsa) lain.
Seperti buku Bisakah Orang Asia Berpikir? karya Kishore Mahbubani ini, yang mengupas globalisasi dengan angle orang Asia. Mahbubani membedah struktur sosial orang Asia untuk menemukan titik-titik kekuatan dalam upaya bersaing dengan orang (bangsa) Barat. Hasil dari pembedahan itu memunculkan satu pertanyaan penting yang tidak membutuhkan jawaban segera: "Bisakah orang Asia berpikir?" Pertanyaan itu sangat menggelitik dan merangsang otak untuk berpikir. Bila dipersempit, pertanyaan itu akan berbunyi, "Bisakah bangsa Indonesia berpikir?" kata M Dawan Rahardjo dalam kata pengantar buku setebal 317 halaman ini.
Jika bangsa Indonesia mampu menemukan pertanyaan itu, tandanya bangsa Indonesia mampu berpikir. Meskipun, bangsa-bangsa Barat mungkin tidak suka jika pertanyaan itu muncul pada suatu bangsa di dunia ketiga. Sebab bangsa-bangsa yang menyadari kelemahannya akan cepat bangkit mencapai derajat kesuksesan seperti bangsa-bangsa Barat. Bangsa yang telah menemukan pertanyaan itu adalah China dan India.
Kata sejumlah ahli, diduga kuat tahun 2010 China akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Sebab sekarang tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita China mencapai 5,5% per tahun, jika dibandingkan dengan pencapaian negara-negara non-Barat yang hanya pada kisaran 2,5%. Terlebih lagi China mampu mencapai tahap berkembang dalam tempo 10 tahun bila dibandingkan dengan bangsa Inggris yang 58 tahun, Amerika Serikat 47 tahun, dan 33 tahun bagi Jepang.
Fenomena China, setelah empat macan Asia, oleh ahli Barat disebut keajaiban, walaupun Indonesia di masa Orde Baru bisa disebut demikian seandainya tidak dilanda krisis 1997. Melangkah cepat seperti China bukan proses mudah dan instan. Strategi menghadapi persaingan global dibutuhkan perangkat modal organisasi yang solid, kuat, dan cerdas. China mempunyai modal itu. Antara lain kecerdasan yang ditunjukkan oleh kemampuan berorganisasi secara demokratis, terutama organisasi skala besar.
Sementara itu, menurut Fukuyama, kemampuan berorganisasi skala besar secara demokratis tersebut sangat ditentukan oleh modal sosial (social capital) yang berintikan kepercayaan (trust) yang berperan sebagai perekat organisasi atau kegotong-royongan. Hanya saja sedikit bangsa-bangsa di dunia ini yang memiliki modal sosial tinggi (high trust society), misalnya Jerman, AS, dan Jepang. Bangsa-bangsa ini berhasil mencapai kemajuan.
Adapun bangsa-bangsa lain yang tipis modal sosialnya (low trust society) akan sulit mencapai kemajuan, kecuali dengan otoritarianisme atau sistem administrasi dan sistem hukum yang keras. Karena itu, bangsa China yang berhasil mencapai kemajuan pesat memerlukan otoritarianisme, seperti ditunjukkan dalam peristiwa Tiananmen (hlm xii).
Menurut Mahbubani, cara berpikir Asia berbeda dengan Barat. Dalam penilaian orang Barat sendiri, cara berpikir Asia dalam mendekati masalah cenderung holistik dan kurang bergantung pada logika. Hal ini berbeda dengan kecenderungan berpikir cara Barat, yang lebih percaya pada logika dan cenderung analitis pada fokus yang berbeda-beda. Dengan kata lain yang juga sering disebut, orang Barat lebih rasional, sedangkan Asia lebih emosional.
Tapi orang Asia modern makin cenderung mengikuti Barat, walaupun tidak mau atau tidak bisa meninggalkan kepribadiannya sehingga kecenderungannya adalah melakukan sintesis atau sinkretis. Hasilnya adalah pola pikir yang holistis. Peradaban Asia akan mencapai tingkat perkembangan yang sama dengan peradaban Barat. Realitas mendasar yang masih baru di Asia Timur adalah keyakinan sejati dan kepercayaan diri dalam pikiran baru orang Asia bahwa saat ini mereka telah datang. Banyak pikiran orang Asia telah mencapai tingkatan-tingkatan tertinggi peradaban Barat di bidang ilmu dan pengetahuan, bisnis dan administrasi, seni dan sastra. Hampir semuanya berkembang pesat.
Pikiran Asia, setelah bangkit, tidak bisa ditidurkan lagi esoknya. Dari hari ke hari, kekuatan-kekuatan globalisasi menyebabkan interdependensi yang semakin besar dan luas. Tindakan-tindakan yang terjadi di salah satu penjuru dunia akan terpengaruh pada penjuru dunia lainnya dalam tempo relatif singkat dan cepat.
Sebagian besar orang yang hidup di luar Amerika bisa merasakan dan memahami dampak globalisasi: Mereka merasa kehilangan otonomi setiap hari. Sebagian besar rakyat Amerika merasakan dampak ini, atau mungkin belum merasakannya. Mereka hidup dalam negara paling kuat yang pernah disaksikan dalam sejarah umat manusia. Kekuatan yang besar dan dua samudra luas membentang membuat rakyat Amerika tidak menyadari bagaimana dunia tengah berubah. Paradoks-paradoks besar yang muncul di sini adalah: masyarakat yang paling terbuka di dunia malah kurang mendapatkan informasi tentang dampak niscaya akibat perubahan-perubahan global. Sebuah gelombang pasang saat ini tengah berlari menuju pantai-pantai Amerika (hlm 231).
Tantangan utama abad ke-21 adalah bagaimana mengatur dunia yang mengecil ini pada saat kekuatan-kekuatan globalisasi menyebabkan interdependensi (saling ketergantungan). Kebutuhan akan adanya institusi dan proses multilateral akan tumbuh beriringan. Tapi multilateralisme hanya bisa berjalan jika kekuatan-kekuatan besar saat ini, khususnya Amerika Serikat, mendukung multilateralisme.
Buku bertema sentral tentang globalisasi ini ingin mendedahkan keyakinan orang-orang Asia bahwa kebangkitan hanya bisa dicapai dengan strategi dan keyakinan akan munculnya masa gemilang. Dengan pertanyaan, bisakah orang Asia berpikir? penulis bermaksud menggosok akal orang Asia untuk tidak meratapi, mengeluh, dan menyalahkan diri sendiri.
(Kholilul Rohman Ahmad, sarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Naskahj ini pernah dimuat di Harian Media Indonesia Sabtu)