25 Februari 2008

Nilai Ekonomi dalam Kontroversi Islam Liberal



Nilai Ekonomi dalam Kontroversi Islam Liberal

Oleh Kholilul Rohman Ahmad

Geliat pemikiran liberalisme Islam atau Islam liberal yang dikampanyekan, antara lain, oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam pentas pemikiran Islam Indonesia tampak mulai mengendur. Gaungnya tidak seheboh ketika muncul. Popularitasnya telah memudar dan–jika boleh dibilang-- kadaluwarsa. Sebab substansi Islam liberal, yang sempat trend di Indonesia tahun 2000-an, bukan wacana baru dalam kancah pemikiran Islam di Indonesia.

Dalam bahasa M Yudhie Haryono dalam Melawan dengan Teks (2005: 13), fenomena Islam liberal muncul dengan epistemologi sama, tetapi penampilan beda. Salah satu keuntungan wacana Islam liberal cepat populer karena didukung publikasi media massa secara massif, bahkan sampai melahirkan kontra Islam liberal. Terlebih saat koordinator JIL, Ulil Abshar Abdalla, kena fatwa/dihukumi halal darahnya oleh sejumlah kiai Jawa Timur, makin terkenallah wacana itu.

Meskipun topik bahasan Islam liberal selalu kontekstual, namun sumber rujukan tidak mengalami perubahan. Persoalan utama liberalisme Islam mengembalikan pemahaman Islam agar yang semula kaku menjadi lentur/lembut (eklektik). Hakikat Islam liberal adalah mendukung trend kehidupan modern yang cenderung memberi kebebasan berekspresi, seperti tegaknya hak asasi manusia, terjaga lingkungan hidup, toleransi, demokrasi, dan hal-hal yang selaras modernitas.

Terlepas kontroversi yang melingkungi Islam liberal –di mana sempat membuat gerah sejumlah kiai nahdliyin—ada fenomena lain dalam dunia buku di mana terpengaruh positif oleh wacana itu. Buku-buku Islam liberal dikecam tapi sekaligus diburu. Saat wacana itu mengemuka karena dikecam, maka bukunya semakin laris. Pembelinya rata-rata kalangan muda Muslim yang baru menginjakkan kaki di perguruan tinggi, lebih spesifik lagi mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Menilik buku-buku Islam liberal yang pernah beredar, dan hingga kini masih mudah ditemukan, terdapat empat kategori. Kategori pertama, teks Islam liberal baru. Buku ini bersifat babon atau utama di mana dalam uraian tentang Islam liberal menghadirkan kontekstualitas zaman. Titik tekan buku ini pada penafsiran atas Kitab Suci (al-Qur’an) dan Sunnah (Hadits) sesuai zaman modern dan terbit tahun 200-an. Dari sub tema terdapat metode tafsir hingga hasil penafsiran.

Yang termasuk dalam kategori ini, antara lain: Dari Neomodernisme ke Islam Liberal (Abd A’la), Wacana Islam Liberal (Charles Kurzman, ed.), Membendung Militansi Agama (Mun’im A Sirry), Islam Liberal (Zuly Qodir), Gagasan Islam Liberal di Indonesia (Greg Barton), Teologi Pluralis Multikultural (Muhammad Ali), NU “Liberal” (Mujamil Qomar), Wajah Liberal Islam di Indonesia (Luthfi Assyaukanie, ed.), dan Islam Mazhab Kritis (Ahmad Fuad Fanan). Bila disebutkan lengkap berjumlah lebih dari 100 judul.

Kategori kedua, teks Islam Liberal klasik. Jenis kedua ini termasuk wacana Islam liberal namun belakangan jarang dikupas karena sifatnya klasik dan penulisnya golongan generasi tua. Mengapa hal ini terjadi? Dalam trend wacana Islam liberal mengandung unsur sosialisasi gagasan sehingga dibutuhkan tenaga-tenaga muda yang aktif. Kira-kira, bila buku ini dimasukkan sebagai liberal kurang mengema di masyarakat. Padahal pembahasannya di buku ini jauh lebih menggigit, meski tidak menyebut istilah Islam liberal. Yang termasuk kategori ini antara lain Teologi Islam: Aliran-aliran dan Sejarah Analisa Perbandingan (Harun Nasution, 1972) dan Theology Islam --Ilmu Kalam (Ahmad Hanafi, 1974).

Kategori ketiga, kontra Islam liberal provokatif. Jenis ini bersifat counter Islam liberal dengan pendekatan Al-Quran literer. Pada umumnya, buku jenis ini berupaya mengemukakan opini Islam liberal melalui pendekatan lain. Akan tetapi karena analisanya menggunakan pendekatan lain sehingga cenderung provokatif. Kalangan pro-Islam liberal menyebut ‘irasional’, sementara kalangan kontra-Islam liberal mengatakan ‘berupaya meluruskan yang bengkok dalam Islam liberal’. Buku jenis iniantara lain Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya (Adian Husaini dan Nuim Hidayat, 2002), 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia Pengusung Ide Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme Agama (Budi Handrianto, 2007), dan Bahaya Islam Liberal (Hartono Ahmad Jaziz, 2002).

Kategori keempat, kontra Islam liberal edukatif. Pada dasarnya buku jenis ini sama dengan jenis ketiga. Hanya saja cara penyampaian dan analisanya lebih lembut tanpa tendensi berlebihan. Uraian yang disampaikan tidak menghakini Islam liberal sebagai sesat. Isinya memaparkan realitas yang berkaitan Islam liberal melalui pendekatan sosiologis-kultural. Bersifat soft sehingga cocok sebagai panduan pendidikan mengenalkan Islam liberal untuk orang awam. Yang termasuk jenis ini, antara lain Agama Orang Biasa (2002) dan Agama Kolonial: Colonial Mindset dalam Pemikiran Islam Liberal (2003), keduanya karya Umaruddin Masdar.

Empat kategori di atas dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat memahami bahwa wacana Islam liberal merupakan buah pemikiran manusia yang patut diapresiasi, baik yang pro atau kontra. Apalagi penerbit yang menerbitkan masing-masing jenis mempunyai perhitungan sendiri sebelum menerbitkan alias tidak asal terbit. Oleh sebab itu, ketika sebuah buku telah terbit, publik berhak menilai apapun.

Kenyataan lain, wacana kontroversial di masyarakat bernilai ekonomi, khususnya bagi pelaku dunia buku. Semakin kontroversial semakin mahal nilainya bagi yang jeli menangkap. Ketika pro-kontra Islam liberal mengemuka, omset kertas dan tinta di Indonesia ikut naik sehingga memberi keuntungan lain bagi yang tidak terlibat dalam kontroversi. Di sinilah konteks buku tidak selalu menguntungkan penulis dan pembacanya. Penerbit yang bergulat dengan buku tanpa ikuti arus salah satu pro atau kontra diuntungkan dari sisi lain. Ternyata di balik pro-kontra ada manfaat besar bagi pihak tertentu tanpa terlibat dalam salah satu arus. Kholilul Rohman Ahmad, Alumnus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (naskah ini pernah dimuat di SUARA MERDEKA Minggu 24 Februari 2008)